Selasa, 01 September 2009

Jejak Petualang Indonesia (JPI) 2009 To Be One Nature. Berawal dari forum milis para penikmat petualang alam seluruh Indonesia, dibarengi akan kes




Berawal dari forum milis para penikmat petualang alam seluruh Indonesia, dibarengi akan kesamaan pandang untuk menyelamatkan bumi dari monster global warning. JPI (Jejak Petualang Indonesia) 2009 adalah salah satu wujud nyata kampanye keseimbangan ekosistem bumi. Sebagai salah satu apresiasi para adventure Indonesia, yang bekerjasama dengan perum perhutani dan ada dua puluhan instansi yang ikut mendukung kegiatan ini, sebagai bentuk kepeduliannya akan keseimbangan alam. Salah satunya adalah Yamaha Indonesia.

Acara yang diselenggarakan di Ranca Upas-Ciwidey-Bandung (8-9/8) merupakan kawasan yang terkenal dengan suhu dinginnya, hingga mencapai 0 derajat celcius dan kawasan budi daya hewan Rusa. Letaknya yang tak jauh dari ibu kota provinsi jawa barat ini, 70 km dari arah selatan kota Bandung, di Ranca Upaslah acara JPI ini terselenggara.

Ada 805 peserta dengan 200-an panitia, nara sumber, serta tamu undangan yang mengikuti acara JPI ini. Para peserta petualang dari seluruh belahan nusantara, bahkan ada juga yang dari Malaysia, yang sengaja datang ke acara JPI ‘09, untuk bertemu dan berkumpul dengan adventure dari seluruh Indonesia. Diantaranya adalah perwakilan dari Motobiker dari Yamaha Vixion Club Purwakarta (YVC-P). Uniknya acara ini merupakan kopi daratnya para petualang tanah air, yang sebelumnya tersebar di beberapa host petualangan televisi, yang sering on line bersama, kemudian terselenggaralah acara petualangan ini.

JPI 09 menghadirkan berbagai kegiatan alam yang seru dan menantang antara lain :
Mountain Bike, penetrasi hutan, Survival, Family Camp, pengenalan tanaman obat, dan pengetahuan tentang hewan hutan.

Pada malam harinya, diadakan acara ‘Dugem’ (Duduk Gembira) yang ikut menghadirkan beberapa host petualang Indonesia, yang tidak asing lagi bagi kalangan para petualang seperti Riani Djankaru, Dody Djohan Jaya dan Sifa Kumala.

Acara yang bertemakan alam ini, terselenggara atas kuatnya kebersamaan yang di bangun para petualang Indonesia. Salah satunya Aji Sang Penakluk (Animal Handeler) sebagai ketua panitia JPI 09, yang sudah beberapa kali tampil di acara petualangan pada salah satu stasiun televisi.

Bagi Motobikers yang cinta alam, aktifitas ini memberikan suntikan mental dan moral untuk menambah kecintaan pada bumi. Bagaimanapun alam tidak bisa dipisahkan oleh manusia termasuk juga kehidupan Motobikers.


Teks dan Photo : Awan SB.

Senin, 03 Agustus 2009

Dari idealis ke narsisme



Sejarah memang tak pernah salah mengupas hal ihwal track record manusia, dari sudut pandang hidup, status sosial, atau bahkan dari sudut pandang yang secara general tidak difikirkan manusia. Apa itu? salah satunya sisi nakal dan psikologis sang pelaku sejarah, yang tidak di show up, karena alasan privacy misalnya. Padahal justru frame sejarah akan lebih berseni jika ada sisi -sisi itu yang di kupas secara mendalam. Tujuannya jelas supaya orang lain yang menyimak " sukses'' tidak terlepas dari hal -hal seperti itu.

Pernahkah anda lihat seorang ulama juga sering kali mlototin bokong nona-nona yang bahenol, ganti baju koko dengan kaos oblong, terus pergi 60 km dari tempat tinggalnya untuk cari video porno terbaru, si krudung juga melek merem lihat tukang ojeg yang berbodi yahuud, tukang ngaji tapi jago maen kartu remi, domino dsb. Itu manusiawi bro, jangan ledek mereka jika kedapatan seperti itu, hal itu yang akan membuat berat menanggung nama besar sebagai...... orang pandainya anu.... si alim nya anu.....de es be.

tengok hal lain, tukang kawin yang punya istri 5 ( yang tercatat), punya kebiasaan buang sampah pada tempatnya, si Jabrud yang sehari biasa nenggak 8 botol brangkalan/arak putih, tidak pernah telat sholat jum'at, atau pengusaha lendir di kawasan cipinang, rajin kirimin uang untuk pemangunan mesjid dikampungnya. Well...jangan puja mereka dengan hal positifnya, why? entar-entarnya niatnya bisa berubah dengan "SUPAYA"ah supaya orang lihat, supaya dikira sudah insaf, supaya, supaya dan supaya. tobecontiuned

Jumat, 24 Juli 2009

from Brebes to Rangers

Jurnalisme Damai, Apa Mungkin?

“Jurnalisme damai atau menyelesaikan persoalan yang saya ingin bangun di media ini pak,” dengan semngat berapi-api menjawab wawancara seorang pemilik salah satu media Islam. “Jangan sampai media ini mengangkat tulisan-tulisan yang menyulut konfrontasi. Media massa dalam pemberitaan hendaknya dalam lebih menyejukkan pikiran, bukannya membakar emosi audiens, apalagi lawan-lawan yang bersebrangan. Seperti pemberitaan non-Muslim di media ini, menurut saya hanya menyulut perpecahan yang lebih luas, tambah saya.

Ya, itulah sekilas ringkasan jawaban saya dalam sebuah wawancara untuk menjadi reporter di sebuah media Islam yang cukup lama dan konon orang bilang cukup radikal. Tapi, nyatanya ide saya tersebut justru menjadi penyebab gagalnya saya masuk menjadi reporter di media tersebut. Padahal menurut informan seorang teman yang lebih dulu menjadi wartawan dimedia tersebut, nilai saya masuk 3 besar. Karena yang akan direkrut untuk masa percobaan adalah 3 orang. Atau mungkin juga karena bahasa inggris saya yang kurang bagus? Mungkin juga, tapi wallahua’lam. Hanya si pewawancara itu yang tau.

Ide jurnalisme damai tidak sekedar guyonan atau asal ngomong, ketika saya sampaikan saat wawancara pada saat itu. ‘Peace Journalism’ rasanya menjadi langka di negeri ini. Saya melihat masih banyak media pers yang menyulut emosi audiens dalam pembuatan berita-beritanya. Padahal jurnalis harusnya bisa membuat berita yang menyejukkan. Apa memang tugas media membuat sensasi? Atau memang justru yang kontroversi itu yang menarik? Ah, memangnya media gosip.

Ide jurnalisme damai ini ditolak mentah-mentah oleh seorang kawan yang bekerja di media. Menurutnya wartawan hanya menulis fakta yang ada, bukan tugas media menyelesaikan sebuah persoalan yang ada di negeri ini. Ya, mungkin juga benar apa yang dikatakan kawan saya ini. Tapi bukankah peran media juga harusnya memberi pendidikan, pencerahan dan informasi yang baik buat para audiensnya? Lalu apa salahnya dengan ide jurnalisme damai ini?

Jika saja standar profesi jurnalistik dan etika pers benar-benar diaplikasikan, saya yakin akan tercipta sebuah jurnalisme yang damai. Celakanya lagi standar profesi jurnalisme seperti syarat-syarat untuk menjadi wartawan dan penerbit pers tidak ada dalam Undang-Undang Pers. Konsep-konsep jurnalisme accurate reporting (akurat dan teliti), objective reporting (tidak memihak), fair reporting (jujur dan tidak bias), balance reporting (pemberitaan yang berimbang dan proporsional), dan true reporting (benar) banyak diabaikan para wartawan.

Pemberitaan yang vulgar dan sensasional justru menjadi kegemaran para wartawan dalam cara pemberitaan yang disebut crisis news, action news, spot news, dan hard news. Ditambah dengan kebiasaan buruk mengambil angel kejadian yang menegangkan, pemakaian gaya bahasa, cara memilih judul, leads dan cara menerapkan fungsi agenda setting (pilihan waktu dan tempat berita) yang mencemaskan khalayak (audience).

Di dalam buku “Komunikasi Islam” yang ditulis oleh Andi Abdul Muis, dalam dokumen-dokumen sejarah pers barat yang memaparkan tipologi pers memang ada masalah keberpihakan dalam melaksanakan fungsi jurnalistiknya terutama sebagai saluran komunikasi politik. Ada yang disebut partisan press, ada party –directed press dan party-bound press.

Disamping itu menurut A. Muis, pers barat juga mewariskan kepada para jurnalis di Negara-negara lain, tipe-tipe berita yang disebut berita kekerasan dan konflik (action news), berita kegemparan (crisis news), kejadian-kejadian panas (spot news) dan berita-berita yang menakutkan (hard news). Cara pemberitaan demikian memang sangat mempengaruhi jurnalis di dimedia-media pers Indonesia. Kesubjektifan media massa atau jurnalis pada sebuah kelompok, sebenarnya mengganggu sebuah jurnalisme damai yang dicita-citakan dan justru menciptakan ‘war jounalism’ yang semu. Wallahua’lam
KOMUNIKASI DAKWAH MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKASI PEMASARAN

Aktivitas dakwah dalam menegakkan kembali Daulah Khilafah al Islamiyyah di berbagai belahan dunia, kian hari kian marak. Seiring dengan itu, ide khilafah kini telah menjadi wacana publik ’baru’ di tengah masyarakat setelah puluhan tahun terkubur oleh pemahaman demokrasi-sekuler.
read books
Didukung oleh kebobrokkan sistem demokrasi-sekuler yang semakin dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupannya, Khilafah dan Syariah kini telah menjadi wacana alternatif yang diharapkan mampu memberikan alternatif sistem kehidupan yang lebih baik. Hal ini wajar, karena secara sosiologis, pada dasarnya sebagian besar masyarakat yang terlalu lama hidup dalam keterpurukan tidak terlalu peduli pada sistem hidup yang diterapkan atas mereka. Bagi mereka, tatkala ada sebuah sistem yang diterapkan oleh penguasa bisa memberi kemudahan dalam hidupnya, maka masyarakat pasti akan memberikan dukungan. Murahnya sembako dan pendidikan, luasnya lapangan pekerjaan, mudahnya mengakses berbagai layanan publik, adalah sebagian kemudahan yang diharapkan masyarakat. Makanya tidak heran, jika seorang kandidat presiden misalnya, akan mendapat dukungan publik saat mengangkat isu-isu itu sebagai ’senjata’ dalam kampanyenya meski dalam realitanya jauh panggang dari api.

Disinilah peran pentingnya komunikasi sebagai wasilah dalam menjelaskan berbagai hal tentang Islam-Syariah-Khilafah agar dapat dipahami oleh masyarakat secara luas. Seringkali kali kita membicarakan pentingnya opini, tetapi kita jarang membahas pentingnya komunikasi sebagai bagian yang sangat urgen dari aktivitas pengopinian.

Globalisasi informasi dan teknologi yang terjadi sekarang ini membuat siapapun dapat dengan mudah mengirim dan menerima informasi secara cepat. Apa yang terjadi di Aceh (tsunami) beberapa tahun yang lalu dengan segera dapat di ketahui oleh jutaan manusia di belahan bumi yang lain, adalah karena globalisasi itu. Terhadap fakta kecanggihan seperti itu, para ahli komunikasi menyebutnya sebagai gejala time space compression atau menyusutnya ruang dan waktu.

Fungsi Komunikasi Dalam Aktivitas Dakwah
Komunikasi (dari Latin ”Comunicare”) biasanya diartikan sebagai suatu proses penyampaian lambang-lambang antara dua atau lebih orang (atau sistem) yang dapat diberi makna tertentu oleh kedua belah pihak (encoded-decoded) dan biasanya menghasilkan umpan balik (feedback) [Komunikasi Islam, A. Muis, 2001]. Adapun Harold D. Lasswell secara sederhana mendefinisikan komunikasi adalah siapa mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa akibatnya.

Komunikasi melalui berbagai medianya di suatu masyarakat, dapat menciptakan kesenjangan perilaku sosial yang berubah dengan kaidah-kaidah kultural yang normatif (culture lag). Komunikasi yang intensif dan efektif akan menciptakan pengaruh dan perubahan sikap, pendapat bahkan perilaku masyarakat. Masyarakat tidak lagi mau menggunakan pranata sosial yang ada, akibatnya terjadi perubahan mindset pada masyarakat yang dihasilkan dari proses komunikasi. Dalam keadaan seperti ini berarti komunikasi mampu memerankan fungsinya sebagai salah satu alat bagi perubahan masyarakat (social change). [Lihat tabel dibawah ini]
grafik 1
Secara lebih rinci, para praktisi komunikasi, menjelaskan fungsi komunikasi sbb :
• Menciptakan kesadaran (awareness) terhadap gagasan/ pemilik gagasan (merek/brand)
• Mengubah persepsi
• Mengubah keyakinan
• Mengubah pensikapan (mis : tadinya menolak menjadi menerima)
• Remainder (mengingatkan kembali)
• Memperkuat sikap
• Mendapatkan respon langsung
• Membangun citra

Adapun dakwah merupakan proses merubah seseorang maupun masyarakat (pemikiran, perasaan, perilaku) dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik. Secara spesifik, dakwah Islam diartikan sebagai aktivitas menyeru/ mengajak dan melakukan perubahan kepada manusia untuk melakukan kema’rufan dan mencegah dari kemungkaran. [Islam Politik dan Spiritual, Hafidz Abdurrahman, 231]

Berdasarkan penjelasan diatas, maka sebesarnya aktivitas dakwah dapat berhasil secara optimal, jika didukung oleh proses komunikasi yang baik dan efektif, yang dalam bidang pemasaran dikenal dengan istilah komunikasi pemasaran.

Empat Syarat Komunikasi Efektif
Efektif tidaknya dan berhasil tidaknya komunikasi dilakukan sangat ditentukan oleh empat faktor, yakni : (1) Kejelasan tujuan dan target, (2) Kejelasan target audience, (3) Strategi pesan, (4) Strategi media.

1. Tujuan dan Target
Tujuan komunikasi yang jelas dan semakin spesifik , akan menghasilkan komunikasi yang semakin baik. Mengapa? Karena semakin spesifik tujuan dari aktivitas komunikasi, maka akan semakin fokus.

Tujuan itu sendiri harus mendasarkan pada dua hal pokok, yaitu : posisi faktual pengaruh para pengemban dakwah (dalam jamaah dakwah) di tengah masyarakat dan sumber daya saing atau nilai (value) yang ingin diberikan pengemban dakwah kepada masyarakat.

Posisi faktual jamaah dakwah dapat diukur dengan pendekatan model (Product Lifetime Cycle).
Grafik 2
Keterangan :
• Tahap Lahir : ide, pemikiran, konsep dan eksistensi belum mempunyai ’pangsa pasar ’yang besar, namun mempunyai potensi yang besar.

• Tahap Tumbuh : ide, pemikiran, konsep dan eksistensi dikenal dan berhasil melompati ”parit” (masa transisi) menjadi standar (genre) baru, sehingga pangsa pasar akan tumbuh berkembang. Hal itu ditandai dengan apresiasi yang akan terus naik

• Tahap Dewasa : tahap dimana permintaan berada pada posisi maksimal dan tidak lagi mengalami pertumbuhan ’pangsa pasar’. ’Pasarnya’ masih besar,namun pertumbuhan stagnan, karena masyarakat sudah mengenal akrab.

• Tahapan Turun : akan terjadi jika ide, pemikiran, konsep dan eksistensi tidak bisa mempertahankan ’pangsa pasar’. Maka yang biasa dilakukan adalah mempertahankan agar eksistensi jamaah dakwah tetap ada.

Sedangkan tentang value bisa menggunakan model The Value Descipline of Salesman. Hermawan Kartajaya dalam ”Integrating Sales & Marketing”-nya, mengutip konsep Fried dan Weiserman (dalam buku ”The Dicipline of Market Leader”), membagi tiga sumber daya saing, yaitu : Product Leadership, Customer Intimacy, Operational Excellence.

Product Leadership menekan pada aspek informasi tentang produk (ide, pemikiran, konsep) yang ingin di sampaikan kepada masyarakat. Customer Intimacy pada menjalin hubungan yang baik, sedang Operational Excellence lebih pada tingkat servis yang bisa diberikan.
Grafik 3
Dalam konteks dakwah, kita bisa menerapkan konsep tersebut dalam bentuk, apakah komunikasi dakwah saat ini ditujukan pada penyebaran informasi tentang syariah-khilafah, berarti bicara tentang product leadership, atau mau diarahkan pada terjalinnya hubungan dengan berbagai elemen Islam di negeri ini, atau ingin menjelaskan apa yang akan dan bisa diberikan oleh jamaah dakwah kepada umat melalui dakwahnya. Inilah yang menjadi PR kita kedepan.

2. Target Audience
Secara prinsip, semakin jelas target audience yang ingin disasar, maka efek komunikasi akan semakin optimal dan tepat sasaran. Jamaah dakwah harus menyusun dan membuat klasifikasi target audience. Dari mereka yang tidak tahu sama sekali tentang khilafah hingga mereka yang tahu, mendukung dan mau terlibat. Inilah yang disebut dengan segmentasi.

Dalam segmentasi ini, tidak ada salahnya kita mencoba menggunakan metode pendekatan lain seperti Customer Lifetime Value. (lihat bagan dibawah ini).
grafik 4
3. Strategi Pesan
Aktivitas komunikasi dikatakan berhasil jika pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat dipahami secara benar oleh target atau sasaran. Untuk itu, paling tidak ada dua hal yang harus dipersiapkan secara matang dalam melakukan pengkomunikasian. (1) Fokus pesan (what to say) dan (2) Cara atau pendekatan dalam menyampaikannya (how to say). Semakin sederhana dan simpel pesan yang disampaikan—meski yang disampaikan kompleks, maka semakin besar kemungkinan audience memahaminya. Bukan sebaliknya.

Pesan tidak melulu verbal, bisa juga tulisan, tanda (gambar), bahkan penampilan seseorang . Inilah yang oleh Alex Sobur dalam Semiotika Komunikasi disebut semiotika.

4. Strategi Media
Strategi media merupakan bagian akhir dari proses informasi dan komunikasi yang akan dilakukan. Pemilihan media juga sangat menentukan keberhasilan, efektifitas dan efisiensi komunikasi yang dilakukan. Apakah media elektronik, media cetak, maupun media alternatif (ambient media).

Semoga gagasan tentang komunikasi dakwah dengan pendekatan komunikasi pemasaran ini bermanfaat. Wallahu’alam

Rabu, 10 Juni 2009

BOYOKKE PEGEL

Kambing conge...eeh bulakan sapi lanang masih ada bae. obat stres .. gampang! nikmati hidup, senikmat nikmatnya, ga punya duit nyari. ga dapat kerja, sementara kek jadi kuli panggul, ngamen, bm. de es be. tapi sementara nya ga pake 9 tahun, yah bulukan lah, priben donge.

jakarta under cover

gubrak ! maghrib tong... sing dolan gagian balik! sembayang, ngaji, belajar. terus ndekok.ini cerita lama bro, dulu waktu jaman sapi pake cangcut. hehehe... sekarang beda bro.
maghrib masih di kantor lagi ngetak ngetik kompyuuuutter, duh biyung- biyung,

jare sapa mbuh sapa?

jarene sapa, ya jare aku. akune sapa, akune sapa mbuh sapa? sing penting urip, mangan wareg, turu lali, duittttteee. ya goletti dewek lah. pengaturan channel program tv, apa kaitannya,kaitannya ga ada.

serius ! jadi begini bro, sebagai salah satu dari sekian juta manusia yang ada di ibu kota, atau ibu tiri jakarte, pengin ada,komunikasi sesama wong brebes, memang tema yang di ketengahkan rada nyleneh, ganjil, dan urakan. thats reality!
yaaah sengaja menarik teori advertising. yang aneh- aneh banyak orang suka kan?