Senin, 03 Agustus 2009

Dari idealis ke narsisme



Sejarah memang tak pernah salah mengupas hal ihwal track record manusia, dari sudut pandang hidup, status sosial, atau bahkan dari sudut pandang yang secara general tidak difikirkan manusia. Apa itu? salah satunya sisi nakal dan psikologis sang pelaku sejarah, yang tidak di show up, karena alasan privacy misalnya. Padahal justru frame sejarah akan lebih berseni jika ada sisi -sisi itu yang di kupas secara mendalam. Tujuannya jelas supaya orang lain yang menyimak " sukses'' tidak terlepas dari hal -hal seperti itu.

Pernahkah anda lihat seorang ulama juga sering kali mlototin bokong nona-nona yang bahenol, ganti baju koko dengan kaos oblong, terus pergi 60 km dari tempat tinggalnya untuk cari video porno terbaru, si krudung juga melek merem lihat tukang ojeg yang berbodi yahuud, tukang ngaji tapi jago maen kartu remi, domino dsb. Itu manusiawi bro, jangan ledek mereka jika kedapatan seperti itu, hal itu yang akan membuat berat menanggung nama besar sebagai...... orang pandainya anu.... si alim nya anu.....de es be.

tengok hal lain, tukang kawin yang punya istri 5 ( yang tercatat), punya kebiasaan buang sampah pada tempatnya, si Jabrud yang sehari biasa nenggak 8 botol brangkalan/arak putih, tidak pernah telat sholat jum'at, atau pengusaha lendir di kawasan cipinang, rajin kirimin uang untuk pemangunan mesjid dikampungnya. Well...jangan puja mereka dengan hal positifnya, why? entar-entarnya niatnya bisa berubah dengan "SUPAYA"ah supaya orang lihat, supaya dikira sudah insaf, supaya, supaya dan supaya. tobecontiuned

Tidak ada komentar:

Posting Komentar